Pada umumnya peternak di Indonesia masih menggunakan metode beternak secara
tradisional, metode pengobatan terhadap ternak yang sakit. Peternak yang masih
tradisional terkadang melakukan pengobatan dengan memberikan obata-oabatan
sendiri yang telah di beli dari apotik setempat. Terkadang peternak tidak
mengetahui dosis yang mereka gunakan, kebanyakan dosisi yang mereka gunakan
melebihi dari dosisi yang disarankan hal itu wajar terjadi karena keawaman
peternak tersebut.
Pemeriksaan (anamnesa) pada ternak yang mengalami sakit sangan perlu
dilakukan karena dari hasil pemeriksaan tersebut dapat disimpulkan sakit apa
yang sedang diderita oleh ternak tersebut. Jika jenis sakit ternak sudah dapat
di perkirakan dan dipastikan maka langka selanjutnya ketepatan dalam pemilihan
jenis obat yang akan digunakan. Hal ini merupakan sangat penting untuk
pengobatan ternak yang sedang mengalami gangguan atau kesakitan. Bila salah
dalam penggunaan obat maka tingkat kesembuhan dari ternak tersebut sangatlah
kecil, bahkan akan tambah memperparah sakit dari ternak itu sendiri.
Untuk mencapai hasil
ternak yang maksimal baik dalam bentuk daging, susu dan telur, maka kondisi
kesrawan dan kesehatan hewan harus terlaksanakan. Hewan yang sehat atau tidak
dalam kodisi sakit akan memberikan produktivitas yang baik sehingga harapan dan tujuan beternak
membuahkan hasil. Beberapa masalah kesehatan hewan dapat dicegah misalnya
dengan sanitasi dan higyene yang baik, dengan vaksinasi, dan dengan manajemen
kesehatan yang baik. Namun terdapat beberapa penyakit yang tidak bisa
dikendalikan seperti wabah anthrax. Meskipun dalam hal ini dokter hewan dapat
dijadikan konsultan/pekerja dalam melaksanakan program kesehatan ternak, tetapi
keberhasilan atau kegagalan program sepenuhnya menjadi tanggungan peternak
(Undang Santoso, 2006). 